Senin, 09 Maret 2009
MEMAHAMI KE-KOMPLEKSITAS-AN SISTEM DAKWAH
Sebuah Prolog: Mencoba Melihat Secara Utuh
Terkadang seorang yang tidak terlibat langsung dalam kepenatan sebuah sistem, lebih bisa melihat kekurangan, kebutuhan dan solusi dari suatu sistem itu sendiri. Hal ini dikarenakan masih jernihnya pikiran, kemudian keadaan psikologis yang masih seimbang, dan kemampuan untuk melihat secara utuh yang lebih baik dibandingkan dengan para pemain dari suatu sistem itu.
Seperti halnya seorang pelatih dalam sebuah klub sepak bola, atau seorang komentator pertandingan sepak bola. Salah satu peran pelatih adalah memahami tim, mengevaluasi pertandingan, dan menemukan solusi dari kekurangan-kekurangan tim. Pelatih tidak ikut bermain dalam suatu pertandingan, karena dengan ketidak ikutannya bermain(bergulat dalam sistem permainan), itu dia bisa melihat pertandingan dengan lebih utuh, memyeluruh dan baik. Sehingga bisa menemukan solusi yang tepat ketika tim berada pada kondisi apapun.
Ataupun seorang komentator, yang dengan sangat pandainnya menjelaskan kekurangan, kebutuhan, dan solusi permasalahan tim ketika melakoni suatu pertandingan. Seolah-olah sang komentator adalah seorang yang sangat dekat dan sangat mengenal tim itu. Padahal mungkin sekali pun dia tidak pernah bertemu dengan para pemain dari sutu tim itui, ataupu ikut urun rembug akan strategi pelatihnya.
Begitu juga dalam dakwah. Untuk melihat secara utuh pertandingan dakwah, terkadang para juru dakwah harus jalan-jalan keluar dulu untuk melihat dakwahnya itu dari sudut pandang pelatih. Tidaklah dakwah ini memerlukan pelatih secara khusus seperti halnya dalam sepak bola, melainkan dakwah mempunyai pelatih secara tidak langsung yaitu para juru dakwah yang lebih senior, masyarakat, dan dirinya sendiri
Para juru dakwah sekali waktu memerlukan jalan-jalan keluar sekedar melepaskan diri dari kepenatan sistem. Kemudian sementara waktu menempatkan pikirannya sebagai seorang pelatih; mengevaluasi perjalanan dakwah dari luar sistem. Sekali lagi; evaluasi luar sistem. Karena dengan evaluasi dari luar sistem, maka pikiran akan terkondisikan sebagai pelatih dan pengamat yang memahami dakwah secara utuh. Dengan evaluasi luar sistem juga, pikiran akan terkondisikan sejernih mungkin, relaks. Dan mental psikologi akan seimbang karena terbebas dari kepenatan dan tekanan.
Sebuah Telaah: Dakwah Rosululloh Dan Layer-layer fiqih dakwah
Ketika membicarakan dakwah yang dilakukan Rosululloh, maka secara bijaksana kita harus melihatnya secara menyeluruh. Artinya, kita harus mengamati mulai dari layer pertama yaitu layer pengenalan islam sampai pada layer penjagaan kualitas kemasyarakatan yang madani. Masing-masing layer membutuhkan suatu penekanan perlakuan yang berbeda-beda.
Sejenak, saya mengajak untuk melihat sebuah proses dakwah masyarakat, yang menurut saya memiliki kelemahan dan kelemahan itu diakibatkan oleh dloifnya pemahaman terhadap fiqih dakwah. Begini ceritanya...
Bersambung….
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar